MUAK

Disclaimer: Saya menulis ini murni dari sudut pandang manusia awam yang muak dengan segala bentuk bullying. May GOD be merciful to your soul

Belum lama ini ada kasus bullying terbaru yang lagi ramai jadi bahan pembicaraan di media, yang menimpa seorang mahasiswa berkebutuhan khusus di salah satu kampus swasta dan juga yang terjadi pada seorang siswi sekolah di Jakarta. Keduanya bikin saya ternganga plus gondok luar biasa. Kenapa? Karena kedua kasus bullying tersebut disaksikan oleh banyak orang yang merupakan sesama mahasiswa/i dan juga sesama siswa/i, tetapi tidak satupun dari yang menyaksikan melakukan tindakan yang positif seperti melarang atau mencegah bullying tersebut terjadi.

Saya nggak akan membahas kronologinya panjang lebar karena menurut saya bullying atas dasar alasan apapun tidak bisa diterima. Berdasarkan berita yang saya lihat di televisi, untuk yang kasus mahasiswa itu pelakunya mengatakan kalau dia hanya bermaksud bercanda dengan korban, sedangkan yang kasus siswi sekolah itu terjadi karena memang ada cekcok antara pelaku dengan korban.

let-me-show-you-my-shocked-face-quitmemes-com-14212859

I mean, seriously? Kok kesannya sebuah tujuan dan latar belakang yang ‘sederhana’ banget ya untuk sebuah tindakan yang sama sekali tidak memberikan dampak sederhana bagi korbannya. Kesannya seolah dengan alasan bercanda dan cekcok itu tindakan mereka bisa dianggap benar atau masuk akal.

Sejak zaman saya masih sekolah, bullying sebenarnya sudah ada dan jenisnya beragam pula; dari yang verbal (diberi panggilan/sebutan aneh-aneh), mental (tidak diajak berteman/diabaikan, menyebarkan omongan negatif) sampai fisik (didorong/dipukul/dijambak). Kalau dengar cerita orangtua saya pun juga sebenarnya di zaman mereka bersekolah, bullying itu juga sudah ada, cuma zaman dulu mereka menyebutnya ‘digangguin’ atau ‘dikerjain’. Kalau dipikir-pikir, biasanya bullying itu ada karena ada seorang atau sekelompok orang yang merasa ‘lebih’ dibanding seorang atau sekelompok orang lainnya. Mungkin semacam hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang menang? Dan dalam lingkup pergaulan, situasi seperti ini bukan nggak mungkin terus terjadi. Kenapa? Karena akan selalu ada orang yang merasa ‘lebih’ dari orang lain dan menggunakan ‘kelebihannya’ tersebut untuk membuat orang lain merasa ‘kurang’.

Selain pelaku dan korban, ada juga sosok penonton. Ini biasanya seorang atau sekelompok orang yang berada di tempat kejadian dan melihat langsung terjadinya bullying tetapi tidak melakukan tindakan positif apapun untuk mencegah maupun menghentikan bullying. Ada orang yang melihat terjadinya bullying dan hanya diam saja, mungkin merasa takut ikut jadi korban atau memang kurang peduli. Dan ada juga orang yang justru menyemangati, menyarankan tindakan yang lebih ekstrem, dan berhubung zaman makin canggih ya: merekam tindakan bullying yang terjadi.

63594749

Melihat sikap penonton ini, saya bertanya-tanya apa sebegitu susahnya berbuat sesuatu yang baik ya? Apa para penonton ini bisa melanjutkan hidup dengan tenang setiap hari, tanpa sedikit sentilan di hatinya yang paling pojok bahwa mereka diam saja di saat mereka sebetulnya bisa berbuat sesuatu? Dan yang menyemangati maupun yang merekam itu, selamat ya karena kalianlah yang sebetulnya lebih sadis daripada pelaku. Mungkin sebetulnya yang merekam itu pengen jadi pelaku tapi kurang punya nyali, jadi mereka memilih berada di posisi ‘penonton VIP’ supaya merasa selevel sama pelaku.

Kalau ada yang merasa bahwa mencegah atau menghentikan bullying itu mesti dengan tarik urat atau adu otot, menurut saya tidak harus dengan cara itu. Cara paling positif menurut saya adalah membantu korban. Dengan cara apa? Misalnya si korban diabaikan dan dijauhi oleh teman yang lain, kitalah yang mengajak korban untuk berteman. Atau pelaku menyebarkan omongan negatif tentang korban, kita nggak perlu dengerin omongan negatif itu dan tetap bersikap baik sama korban. Kenapa mesti peduli banget bantuin korban segala, toh bukan urusan kita? Well, you know what? Kita nggak pernah tahu seberapa besar dampak bullying bagi korban. Apa nggak menyesal di kemudian hari kalau tahu-tahu korban jadi berada dalam kondisi memprihatinkan (fisik maupun mental) dan kita sadar bahwa semestinya kita melakukan sesuatu saat bullying terjadi? Kita juga nggak pernah tahu apakah anak, keponakan, saudara, kenalan, tetangga kita juga menjadi korban bullying atau tidak. Apa kita masih bisa tenang sebagai pelaku atau penonton kalau itu ternyata juga terjadi sama mereka yang dekat sama kita?

eafd1fa508f573f4729ebac36c719c8a

Thank you for reading ^^

 

 

Iklan

One thought on “MUAK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s